Wednesday, May 25, 2011

Consumer Behavior

10 tahun belakangan ini, kota-kota besar di Indonesia acap kali di gandrungi oleh sajian-sajian musik bernuansa jazz. Apakah itu di adakan di ruang tertutup maupun terbuka, cafe, resto, hall, sampai ke stadion2, dll. Sungguh ironi memang, kalau kita lihat tanyangan2 musik di televisi di tanah air, sangat jarang kita temui sajian musik dengan bernuansa jazz. Bahkan klo acaranya itu mempersembahkan ST13, D’Missiv, Peterporn, dan banyak lagi penyanyi-penyanyi muda pendatang baru lainnya, sangat mudah ditebak bahwa bakal banyak pemirsa yang menyatroni televisi di rumah mereka masing-masing. Dalam berkendaraan, biasanya penumpang maupun supir selalu menyetel lagu2 pemuda-pemuda pendatang baru ini.

Dan jg ketika mereka mencoba mencari-cari lagu melalui gelombang radionya di dalam mobilnya, tidak sedikit orang melewati gelombang radio yang menyajikan musik bernuansa jazz atau cepat-cepat memindahkan channel kalau kebetulan automatic search berhenti pada gelombang yg menyajikan jazz. Bahkan mereka lebih memilih lagu pujaan hati mereka seperti ST13 walaupun mereka memiliki CD maupun kaset dari yang mereka dengar dari radio tersebut.

Anehnya adalah, ketika sebuah pagelaran live konser jazz hadir di tanah air, ternyata tidak sedikit pengunjung yang belum pernah mendengar nama musisi atau grup band jazz tersebut sebelumnya. Bahkan ketika kota besar seperti jakarta atau Bandung mendatangkan Al Jarreau atau musisi-musisi internasional lainnya, dapat dilihat bahwa orang-orang sangat antusias untuk ikut dalam lautan umat berdesak-desakkan, bergesekan peluh demi menonton sajian musik tersebut. Lebih aneh lagi kebanyakan dari pengunjung yang rela terinjak-injak ujung kakinya tersebut ternyata mereka memiliki lagu-lagu jazz kurang dari satu persen dari total kumpulan lagu yang dia miliki bahkan tidak sedikit yang sama sekali tidak memiliki lagu2 jazz dalam koleksi musiknya, atau tidak sedikit juga dari mereka tidak pernah menyukai musik jazz tersebut. Namun kadang mereka rela merogoh kocek sampai ratusan ribu rupiah demi sebuah kata empat huruf yang membuat mereka sangat antusias yaitu JAZZ. Ada apakah sebenarnya dengan je-a-zet-zet ini..???

Sebuah stasiun televisi bbrp tahun lalu pernah menayangkan beberapa komentar pengunjung jazz yang sedang asik menikmati malamnya sambil menonton konser di jakarta. Salah satu pengunjung tersebut mengatakan bahwa dia merasa tertarik dan mendapatkan pengalaman nonton konser yang “excited banget”, aksi panggung yg wah, betapa senangnya dia dengan keramaian pengunjung saat itu. Pertanyaanya adalah; apakah jazz dilihat dari aksi panggung saja ? apakah jazz dilihat dari konser yang meriah saja ? apakah jazz mendapatkan value dari keramaian penonton saja ? Apa yg dirasakan pengunjung memang tidak salah, hanya saja sedikit orang yang benar2 mengakui bahwa ketika dia berangkat dari rumahnya untuk sebuah konser jazz itu adalah karena sebuah eforia.

Yang dicurigai adalah, bahwa pagelaran jazz di indonesia yang didatangkan oleh para EO atau marketer tersebut adalah bagian dari strategi “Marketing Blue Ocean” dengan melirik “niche market” terhadap konsumen di indonesia, sehingga konsumen mau berbondong-bondong untuk menghadiri jenis musik yang berasal dari New Orleans ini.

Beberapa subgenre jazz yaitu: Dixieland, swing, bebop, hard bop, cool jazz, free jazz, jazz fusion, smooth jazz, CafJazz dan dapat dibagi lagi seperti acid jazz, jazz rock, jazz pop, dan lain sebagainya. Musisi jazz biasanya mengekspresikan perasaannya yang tak mudah dijelaskan ke dalam lantunan musik nya, karena musik ini harus dirasakan dalam hati. “Kalau kau menanyakannya, kau tak akan pernah tahu” begitu menurut Louis Armstrong.

Berikut ini dapat menjelaskan apakah penikmat jazz di indonesia sebagian besar gara2 eforia, trend, ikut2an atau lain sebagainya, yaitu dengan menanyakan diri sendiri seperti :

1> coba sebutkan 5 judul saja dari lagu jazz yang disukai atau teringat. 2> apakah memiliki ke-5 judul tersebut?, 3> apakah pernah memiliki idola musisi jazz., dan 4> berapa menit kah mendengarkan musik jazz dalam seminggu.

Seandainya ke-4 poin tersebut tidak satupun memiliki jawaban yg positif(+), berarti memang benar bahwa sebagian konsumen JAZZ itu adalah sekedar trend, ikut2an, bahkan eforia sesaat.

Hal di atas bukan untuk membandingkan seberapa jauh pengetahuan/pengalaman kita dengan musik jazz atau seberapa kentalnya kita bermusik, akan tetapi sekedar untuk melihat perilaku konsumen (consumer behavior) musik jazz di Indonesia.

.
link terkait:
www.m-peoples.com

No comments:

Post a Comment