
Harus diakui bahwa TL menonjolkan animasi yang lumayan keren di bidang tata visual dan teknologi, namun jauh tertinggal dalam bidang naskah ceritanya. Begitu sederhananya jalan cerita Tron: Legacy, sehingga terkadang film ini dapat di tebak bahwa tidak memiliki sebuah konflik besar yang mampu mengikat perhatian para penontonnya. Berjalan datar, tanpa kehadiran emosi dan penulis yakin bakal terlihat sama sekali tidak menarik.. Namun di berbagai media maupun iklan-iklan, TL sepertinya diangkat mati-matian. Hal ini jelas menggunakan teori marketing ala America yang Indonesia pun berkiblat ke marketingnya America . Ya... ibarat penjual yang menjual dagangannya, mau tidak mau menggunakan media sebagai iklan. Hanya sayangnya, tidak satupun di dunia ini dimana advertising atau lembaga perfilman menjamin kepuasan konsumen. Belom ada sejarahnya tertulis slogan " anda tidak puas, uang kembali". hehehe.
Seorang pakar marketing Eropa (bernama: Ehrenberg) mengatakan," kalau memang advertising itu kuat dan berefek langsung kepada purchase, berarti konsumen sama saja dengan robot. Opini penulis yaitu bahwa sebagian konsumen perfilman indonesia sedang mengalami Euforia animasi tanpa melihat ide cerita atau naskah dalam sebuah film. Pokoknya,"melihat sedikit 3D langsung hajar, atau gembar-gembor iklan di tv yang wah, langsung hajar. Bahkan mendengar sedikit tentang keuntungan hasil tayang film di bioskop luar negeri yang wuuaahhh, langsung komen film anu keren. Seperti mahkluk biru Avatar, bagus animasi tetapi klo cerita dalam Avatar tersebut tidak jauh berbeda dengan film Kevin Costner yaitu Dance With Wolves (1990).
Seorang sahabat sekembalinya menonton Tron mengatakan," Tron: Legacy juga kebanyakan diisi oleh dialog-dialog singkat yang bahkan terdengar terlalu stupid untuk didengarkan. Hal ini jelas sangat bertolak belakang dengan tata visual film yang lumayan. Bahkan seorang sahabat lain menawarkan traktir nonton film ini. Penulis terpaksa menolaknya, bukan berarti sombang, hanya saja apa gunanya gratis kalau memang sewaktu meng-angkat pantat dari kursi dalam bioskop nanti malah terbersik dalam hati hanya carut-marut sambil menuruni anak tangga atau dari awal sampai akhir cerita tidak henti-hentinya tangan menyapu muka sambil menguap.
Menurut penulis, Tron Legacy ini tidak lebih keren dari Superman Return, GI Joe, bahkan sama kelasnya dengan Skyline yang tidak tentu arah dalam penaskahan. Saran penulis adalah, kalau memang penonton semata-mata pecinta animasi, silahkan berbondong-bondong atau berkoar-koar ingin nonton film ini dan tidak perlu sombong untuk mengatakan kalau dirinya takjub dengan TL ini. Tapi kalau ingin menonton film yang berkualitas, maaf, lebih baik saving u'r money & time for something else will be worth. Don't paid for something GeJe..
Overall: 4/10
No comments:
Post a Comment